7 Cara Menjaga NKRI Dari Perpecahan!

Posted on 0 views

Manusia merupakan makhluk yang berbeda dengan makhluk hidup lain, mempunyai pikiran, akal, dan perasaan.  Namun, dengan segala pikiran, akal, dan perasaannya manusia tidak dapat hidup sendiri.  Manusia membutuhkan orang lain atau manusia lain dalam hidupnya.  Oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk sosial.  Dan akibat dari pergaulannya dengan manusia lain, maka kehidupannya tidak selalu berjalan mulus.  Beberapa di antaranya akan timbul persinggungan dan gesekan dengan manusia lain.  Karena setiap manusia pada dasarnya unik, dan tidak bisa disamakan.

Untuk menghindari persinggungan atau gesekan dengan manusia lain atau kelompok masyarakat lain, maka dikembangkan sikap hidup toleransi.  Sikap yang harus dimiliki setiap manusia bila ingin hidupnya berhasil di tengah-tengah masyarakat.  Sikap tolerasni ini juga hadir karena keanekaragaman manusia, baik secara fisik, akal, perasaan, pendapat, hingga perbedaan suku, warna kulit, ras, dan agama.

Makna Toleransi

Tidak banyak dibahas, toleransi berasal dari bahasa latin “tolerare” yang artinya sabar dan  menahan diri atau membiarkan terhadap sesuatu yang terjadi.  Dari arti kata tersebut, maka makna fungsi toleransi dalam kehidupan dikembangkan menjadi beberapa bagian sebagai berikut:

  • Toleransi adalah sikap atau perilaku yang saling menghormati dan menghargai semua tindakan orang lain selama tindakan tersebut sesuai aturan dan norma dalam masyarakat yang ada.
  • Toleransi adalah sikap terbuka dan menghargai suatu individu atau masyarakat terhadap segala bentuk keanekaragaman yang ada.
  • Toleransi juga dapat berarti saling menghormati dan menghargai perbedaan dengan orang lain, sehingga antar individu dapat saling belajar dan menolak kesenjangan budaya sekaligus menolak segala bentuk stereotif yang tidak adil terhadap seseorang atau sekelompok orang.
  • Toleransi juga berarti sikap dan perbuatan yang tidak diskriminasi terhadap kelompok yang berbeda, selama orang tersebut tidak melanggar aturan dan norma yang ada.

Toleransi dalam Beragama

Ada berbagai bentuk toleransi di dunia ini, sesuai dengan berbagai bentuk keragaman yang ada.  Ada toleransi beragama, toleransi antar suku, toleransi dalam berpolitik, dan lain-lain.  Sesuai judul dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam tentang toleransi beragama.
Toleransi contoh sikap tolerasi antar umat beragama ialah sikap diri kita sebagai individu atau sebagai kelompok yang dengan keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa terhadap individu atau kelompok yang berbeda.  Toleransi tersebut dikembangkan dalam bentuk saling menghormati dan saling menghargai atar sesame umat beragama. Toleransi yang tidak mengijinkan perbuatan diskriminatif terhadap pemeluk agama lain. Yosef Lalu, pada tahun 2010 mengemukakan bahwa toleransi beragama terbagi atas 3 jenis, sebagai berikut:

1. Toleransi Negatif

Toleransi individu atau kelompok terhadap keyakinan individu atau kelompok lain yang berbeda, di mana isi atau ajaran serta penganutnya tidak dihargai namun dibiarkan saja. Berbeda dengan masyarakat yang tidak menghargai isi dan umat yang berkeyakinan berbeda karena tidak sesuai dengan aturan negara dan norma. Pada keyakinan yang tidak sesuai dengan aturan dan norma, biasanya akan ditegakkan dengan pembubaran atau pengusiran terhadap umat yang meyakininya.  Sedangkan pada toleransi negatif, isi dan umatnya tidak dihargai namun dibiarkan selama masih menguntungkan kelompok agama lain yang ada. Contoh tpleransi negative ini adalah masyarakat Indonesia membiarkan komunis dan ajarannya di zaman baru merdeka. Karena dianggap pada saat itu, komunis menguntungkan posisi Indonesia yang saat itu bersebrangan dengan Barat atau anti Amerika, dengan berdirinya poros Indonesia – Peking.

2. Toleransi Positif

Contoh sikap toleransi antar umat beragama yang banyak diimplementasikan oleh berbagai agama dan berbagai masyarakat di dunia. Toleransi ini tidak menghargai isi atau ajaran agama lain yang berbeda, namun menghargai pemeluk atau penganutnya. Contoh pelaksanaan toleransi ini ada di hampir setiap agama yaitu meyakini hanya agama yang dianutnya saja yang paling benar. Namun, dalam hubungannya dengan penganut agama lain tetap saling menghargai dan saling mengormati, karena agama adalah sifat-sifat hak asasi manusia.

3. Toleransi Ekumenis

Toleransi yang menghargai semua bentuk perbedaan, baik toleransi terhadap isi/ajaran keyakinan individu lain dan toleransi pada setiap umat yang memeluknya. Toleransi jenis ini umumnya meyakini bahwa agama dan keyakinan yang berbeda, sama-sama benar, dan mempunyai tujuan yang sama. Contoh toleransi jenis ini adalah toleransi terhadap sesame pemeluk agama yang sama dengan aliran atau paham yang berbeda.

Toleransi dalam Beragama di Indonesia

Indonesia mengakui adanya 5 agama yang dianut masyarakatnya, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Budha dan Hindu dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.  Sungguh suatu keberagaman yang cukup banyak. Apalagi bila ditambah dengan berbagai agama lain yang dianut oleh warga negara asing yang tinggal di Indonesia. Agama yang dianut warga negara asing selama sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia juga harus dihargai. Sesuai dengan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia yang menjadi dasar negara, yaitu Pancasila, maka toleransi beragama di Indonesia dikembangkan.

Nilai-nilai luhur pancasila tersebut sesuai dengan sila yang tercantum dalam Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. UUD 1945 pasal 29 ayat 2, menguatkan tentang perlunya toleransi beragama yang harus dilaksanakan di Indonesia “negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Tidak mudah menjalankan toleransi dalam beragama di Indonesia yang bercampur dengan perbedaan suku, dan perbedaan-perbedaan lain yang menjadikannya semakin beragam. Beberapa kali terdengar pergesekan antar umat beragama di Indonesia.   Yang dengan semangat persatuan dan kesatuan masih bisa diatasi.  Beberapa penyebab munculnya pergesekan dan ketegangan antar umat beragama antara lain, sebagai berikut:

  • Kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh pemeluk agama tentang agamanya sendiri dan agama orang lain, sehingga yang sering adalah salah mengambil sikap.
  • Tidak adanya pemahaman yang jelas tentang memegang teguh keyakinan beragama dan toleransi.  Misalnya, pemahaman toleransi dalam beribadah adalah membiarkan orang ayng beragama berbeda menjalankan ibdahnya, tidak termasuk ikut serta dalam ibadah satu perayaan agama orang lain.
  • Sifat dari setiap agama yang mengandung misi dakwah dan tugas dakwah, berarti dapat mengajak orang lain atau menasehatinya untuk memeluk agama yang dianutnya.  Selama hal tersebut tidak dilakukan dengan memaksa dan tidak dengan menghina agama lain dan penjelasan yang sesuai logika, maka tidak akan menimbulkan ketegangan.
  • Kurangnya saling menghargai dalam perbedaan pendapat, sehingga terkadang emosi ikut terbawa dalam perdebatan yang tidak sehat. Saling mencurigai antar contoh sikap toleransi antar umat beragama yang berlebihan.
  • Para pemeluk agama yang tidak dapat mengontrol diri sehingga dapat memandang rendah agama orang lain. Misalnya, ketidaksetujuan atas ajaran agama orang lain yang dilakukan dengan cara mencaci maki.

Untuk menghindari hal-hal di atas maka wujud toleransi harus lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Setiap umat beragama hendaknya dapat memahami agamanya lebih baik, sehingga akan lebih baik pula bersikap terhadap orang yang berbeda agama.  Persatuan di atas perbedaaan atau pluralitas hanya dapat tercapai jika masing- masing kelompok yang berbeda dapat saling berlapang dada.  Manfaatnya pun untuk kehidupan diri kita sendiri. Manfaat tersebut antara lain:

Setelah secara rinci kita memahami makna toleransi, sebab-sebab terjadinya pergesekan antar contoh sikap toleransi antar umat beragama di Indonesia, dan manfaat toleransi beragama secara umum, sebaiknya kita mengetahui wujud nyata toleransi dalam beragama. Hal ini diperlukan, agar kita lebih mengetahui dan dapat melaksanakan toleransi beragama dengan lebih mudah.  Wujud nyata tersebut tercermin dalam contoh sikap toleransi dalam beragama di masyarakat. Contoh-contohnya, sebagai berikut:

  1. Menghormati Hak dan Kewajiban Antar Umat Beragama

Hak dan kewajiban umat beragama di Indonesia pada dasarnya sama, yaitu hak dan kewajiban  warga negara Indonesia. Oleh karena itu, saling menghormati merupakan contoh pertama sikap toleransi beragama.

Artikel Lainnya:

  • Contoh Konflik Sosial dalam Masyarakat – Norma-norma DalamMasyarakat
  1. Membangun dan Memperbaiki Sarana Umum

Membangun jembatan di suatu desa, memperbaiki jalan kampung bersama-sama dapat dilakukan bersama-sama tanpa membedakan perbedaan agama yang dianut.

  1. Membantu Korban Kecelakaan dan Bencana Alam

Membantu korban bencana alam dan korban kecelakaan juga merupakan bentuk toleransi dalam beragama.  Ketika membantu dan menolong sesama, seseorang tidak ditanyakan apa agamanya terlebih dahulu baru dibantu. Atau sebaliknya, orang yang mau membantu tidak akan ditanyakan apa agama yang dianutnya.

  1. Gotong Royong Membersihkan Kampung

Secara bersama-sama masyarakat dapat membersihkan kampung atau desanya. Kampung adalah milik bersama yang harus dipelihara kebersihannya tanpa membedakan agama dan kepercayaan yang diyakini seseorang.

  1. Menghormati Ibadah Orang Lain

Saling menghormati orang yang sedang melakukan ibadah menjadi faktor yang penting toleransi beragama. Contohnya, jika hari raya Nyepi di Bali, maka seluruh masyarakatnya ikut menghormati dengan berdiam diri di rumah masing-masing tanpa membedakan agamanya. Begitu pula jika hari Raya Idul Fitri, ummat Islam tidak diganggu kegiatan ibadah sholat Iednya yang memang akan lebih ramai dari sholat biasa.

  1. Tidak Memaksakan Agama Kepada Orang Lain

Meskipun tiap agama pada dasarnya mempunyai misi dakwah atau mengajak orang lain, tetap perlu disadari misi dakwah tidak bersifat memaksa. Apalagi orang tersebut sudah memiliki agama yang diyakininya.

  1. Saling Menyayangi

Meskipun berbeda agama, dengan tetangga atau teman tetap saling menyayangi.  Karena kita sama Bangsa Indonesia. Dengan saling menyayangi, kita juga dapat memperluas pergaulan dan pengetahuan dengan tidak terbatas ruang dan waktu. Selama teman tersebut tidak bertentangan dengan aturan di negara Indonesia.

Demikian artikel tentang toleransi beragama. Semoga dengan adanya contoh-contoh yang telah disebutkan dapat menginspirasi kita semua untuk lebih mempertinggi toleransi. Toleransi yang tiggi terhadaps sesama merupakan salah satu upaya menjaga keutuhan NKRI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *