Alasan Uang Tak Bisa Gantikan Daging Qurban

Posted on 1 views

Ide tentang daging Qurban lebih baik digantikan dengan uang sesekali muncul sebagai upaya untuk memberi solusi. Alasannya, rakyat kecil yang mayoritas sebagai penerima daging dipandang lebih butuh uang dari pada daging. Apakah alasan itu benar? Yuk, kita kaji bersama.

Zaman dulu, bila tak ada Idul Qurban maka sebagian masyarakat Indonesia tidak akan mungkin bisa makan daging kambing atau sapi dalam waktu satu tahun sekali. Bagi mereka dading adalah makanan mewah yang tak terjangkau.

Sekarang ini, masyarakat Indonesia makin sejahtera. Hampir semuanya mampu membeli daging untuk dimasak. Atau setidaknya membeli makanan yang berasal dari olahan daging. Meski harus diakui sebagian masih juga ada yang “tergantung” pada pasokan daging Qurban untuk memenuhi makan daging dalam porsi besar.
Eid al Adha Mubarak (sumber gambar)

Lantas bila dirasa ternyata masyarakat tidak begitu membutuhkan daging mentah maka dapatkan daging itu diganti uang? Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita simak beberapa alasan mengapa daging Qurban tak bisa digantikan oleh uang.

1. Daging Qurban untuk meneladani pengorbanan nabi Ibrahim. Terdapat nilai-nilai kemuliaan dalam ajaran tersebut.

2. Bila ingin memberi uang pada orang yang berhak maka dapat melalui zakat, shodaqoh, menghutangi, dan semacamnya. Oleh sebab itu tak perlu menukar daging dengan uang.

3. Bila ada penerima daging Qurban yang menjual daging yang telah diterimanya jangan salahkan penerima atau “menyalahkan” dagingnya. Akan tetapi yang perlu dievaluasi adalah cara pendestribusian daging, kinerja badan/lembaga MAL, dan pendidikan karakternya.

4. Di tanggal 10,11, 12, dan 13 Dzulhijah umat Islam haram berpuasa. Larangan itu bukan tanpa maksud. Hari itu seharusnya dimanfaatkan oleh umat Islam untuk makan-makan (pesta) yang bahan utamanya tentu berasal dari daging Qurban yang telah disembelih. 

5. Banyak rakyat kecil yang punya “tabungan” berupa kambing atau sapi. Mereka memelihara hewan itu untuk dinikmati hasilnya dengan menjualnya menjelang Hari Raya Idul Adha. Selain itu para makelar dan pedagang ternak juga akan mendapat keuntungan darinya. Dengan begitu laju perekonomian masyarakat bisa lebih berwarna.

Itulah beberapa alasan mengapa “berkorban” dengan daging tetap tak tergantikan dengan bentuk “berkorban” dengan uang.