Apa itu Hard Selling dalam Dunia Pemasaran? Berikut Penjelasannya

Posted on 1 views

Setiap merk dagang atau merk apapun itu yang dapat menghasilkan uang sangat penting untuk dikenalkan pada masyarakat. Terlebih jika target sasaran itu sudah jelas karena sudah dilakukan survei sebelumnya. Banyak strategi dan model yang bisa dilakukan agar tujuan akhir dari pemasaran yaitu brand itu bisa menghasilkan uang dapat tercapai. Salah satu pendekatan yang biasa dilakukan saat memasarkan brand ialah melalui hard selling.
 
Lalu apa itu hard selling? Ia merupakan teknik memperkenalkan hingga menawarkan barang dagangan yang dilakukan secara langsung, agresif, terbuka atau frontal, tanpa basa-basi, dan tanpa bahasa kias. Dengan begitu konsumen tidak akan memiliki banyak pertimbangan secara mendalam. Konsumen akan diberi pilihan tegas yaitu “beli” atau “tidak beli”. Tidak ada sesi tawar-menawar. Mau silakan beli tak mau silakan pergi begitulah tegasnya. 

Salah satu ciri hard selling ialah harga dagangan sudah dibanderol dengan jelas. Tentu si penjual tidak akan terlalu banyak bicara. Sebab yang “bicara” cukup teks singkat termasuk nominal harga. Alhasil konsumen tidak akan terlalu mempertimbangkan kualitas, spefisikasi, dan kandungan nilai (humanisme dan moralitas) dalam barang tersebut. Sebab, calon pembeli langsung bisa menjajal (misalkan beli mobil maka test drive dulu) dagangan tersebut secara langsung.

Teknik hard selling ini akan sangat mudah diaplikasikan pada barang atau dagangan yang punya harga terjangkau. Setidaknya dagangan tersebut merupakan barang yang benar-benar lagi digandrungi atau digemari (menjadi tren) masyarakat tapi jumlah di pasar sangat terbatas. Oleh sebab itu, pemasar barang tersebut tidak perlu capek-capek lagi menjelaskan kandungan nilai moralitas atau kemanusiaan yang didapat dari barang tersebut.

Bisa dikatakan hard selling merupakan teknik marketing yang “sadis”. Calon pembeli terkesan dipaksa untuk membeli barang tersebut tanpa harus tahu dulu apa manfaat yang diraih setelah ia membelinya. Setelah di rumah baru deh menyesal “Kenapa saya tak membelinya?”. Akibatnya hubungan antara penjual dengan pembeli untuk jangka panjang tidak begitu nyaman dan kepercayaan konsumen berpotensi hilang.
hard sell (sumber gambar)

Bila hard selling ini dilakukan oleh merk dagang milik pribadi dan itu dilakukan secara terus menerus maka resiko kehilangan pelanggan setia sangat mudah terjadi. Akibatnya pemilik brand itu harus terus menerus promosi pada orang baru yang bisa dijadikan target selanjutnya. Itu terjadi karena keputusan membeli oleh konsumen berdasarkan euforia sesaat. Keinginan untuk segera memenuhi kebutuhan nafsu lebih diutamakan ketimbang perasaan (hati).

Teknik hard selling sangat dibutuhkan dalam dunia jual beli. Baik itu jual beli konvensional (offline) maupun jual beli online alias jual beli dalam jaringan (daring). Namun, ada yang mengatakan bahwa teknik ini baru bisa dijalankan setelah teknik soft selling sudah dilakukan terlebih dulu dengan baik. Sayangnya teknik soft selling itu harus dijalankan dalam waktu yang cukup lama dan berkelanjutan. Itu berarti ia akan menjadi pondasi bagi teknik pemasaran berikutnya.

Dapat disimpulkan antara hard selling maupun soft selling keduanya harus dikombinasikan. Dengan catatan waktu dan komposisi yang digunakan harus berbeda satu sama lain. Oleh sebab itu, janganlah terlalu buru-buru meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dalam tempo cepat. Lebih baik buatlah calon pelanggan percaya dulu pada merk kalian. Setelah benar-benar dapat dipastikan konsumen merasa aman, nyaman, dan menjadi “fanatik” terhadap brand kalian maka lakukan teknik hard selling.