Kesal Lihat Teman Pamer di Medsos? Pahami Dulu Apa Tujuan Mulianya

Posted on 1 views

Siapapun yang punya media sosial alias medsos pasti pernah memamerkan sesuatu di postingannya. Baik itu berupa pamer ibadah, kegiatan, kemesraan, barang, pekerjaan, hingga hal-hal sepele sekalipun. Ada yang melakukan secara vulgar alias terang-terangan tanpa tedeng aling-aling. Ada pula yang melakukan secara malu-malu dengan teknik bermain cantik. Yakni, mampu membungkus “pamer” dengan pas sehingga tak kelihatan pamernya.

Perlu dipahami bahwa kadang antara pamer dengan tidak pamer sangat sulit dibedakan. Tak jarang hanya hati sepenulis dan Tuhan saja yang tahu apa niat seseorang sebenarnya posting “sesuatu” itu di medsos. Dengan begitu masalah dosa atau tidak ketika orang melakukan pamer di medsos bukan urusan kita. Sebab kita tidak tahu isi hatinya. Siapa tahu dia punya niatan lain yang kita tidak tahu. Misalnya dia ingin memotivasi orang lain agar seperti dirinya.

Langsung saja, inilah beberapa alasan “mulia” kenapa seseorang pamer di media sosial:

1. Medsos dijadikan diari “terbuka” 

Bila ada istilah “surat terbuka” maka di sini kami juga akan menggunakan istilah “diari terbuka”. Diari adalah buku harian yang berupa catatan kegiatan pribadi sehari-hari. Di mana, isi diari itu boleh dibaca untuk umum. Bahkan seperti halnya menulis surat terbuka dalam menulis diari juga memang sengaja ditujukan untuk umum. Dia menulis diari atau catatan harian di medsos dengan tujuan untuk menarik perhatian dalam arti positif. Yakni, untuk mempromosikan

Bisa saja seseorang menulis diari di medsos untuk mempromosikan kualitas diri, barang jualannya, atau untuk tujuan mulia lainnya. Dengan begitu maka bagi siapapun yang tersinggung ketika ada postingan panjang lebar terkait dengan hal itu maka lebih baik otaknya diserviskan dulu. Bila sebenarnya medsos khusus untuk menulis diari maka apapun yang terkait dengan postingannya bisa dianggap wajar. Sebab memang aktivitas dia sehari-hari lebih banyak menulis. Jadi jangan “kegi” ketika membacanya.

2. Ingin berbagi kebahagiaan

Ketika seseorang telah mencapai level lebih atas pada bidang maka perasaan senang pasti muncul. Orang yang memamerkan sesuatu di medsos termasuk memamerkan ibadah sekalipun bisa jadi ia ingin mengajak temannya untuk merayakan bersama atas pencapaiannya tersebut. Memberikan kabar gembira bahwa ia telah berubah lebih baik. Serta tentunya pada akhirnya ia ingin mendapat dukungan dari teman-temannya tersebut. 

Dalam kasus ini, orang melakukan “pamer” bukan karena penyakit narsis dalam dirinya. Bukan pula karena untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul dari yang lain. Sekali lagi ia tidak hanya sekedar ingin membahagiakan atau menenangkan hati dirinya sendiri. Dia ingin orang yang di sekitarnya juga ingin merasakan kenikmatan bahagianya hati. Dengan itu ia punya modal mengajak orang yang dicintainya agar bisa mencapai seperti dirinya.

3. Untuk mengkabarkan dan mengajak kebaikan

Hanya orang yang berhati busuk saja yang lebih mudah curiga ketika ada temannya “memamerkan” sesuatu di medsos. Padahal seringkali seseorang memperlihatkan sesuatu di medsos bisa jadi tujuannya untuk mensyiarkan, menginformasikan, atau memberitahukan pada orang lain. Tentu syiar itu dilakukan supaya orang lain bisa mengenal lalu mau mengikuti jejaknya. Dengan kabar yang menyebar itu pula pesan kebaikan akan mengalir secara berantai.

Lebih dari sekedar mengkabarkan, seseorang yang memperlihatkan sesuatu di media sosial tujuannya untuk mengajak, menghimbau, menggugah, atau memotivasi. Ajakan itu tidak harus menggunakan bahasa verbal (tulisan dan lisan) tapi juga bisa berupa foto, simbol, atau emoticon. Namun, sebaiknya yang namanya ajakan memang harus diutarakan baik secara lisan maupun tulisan. Dengan begitu jelas bahwa tujuan ia posting berbau “pamer” ialah untuk berdakwah (mengajak).

Lebih dari itu dunia nyata lebih penting

Harus diakui, bahwa membangun cita lebih baik harus dilakukan di dunia nyata. Sebab sampai sekarang slogan “dunia maya adalah dunia kepalsuan” masih sangat melekat di masyarakat. Media sosial sebagai tempat pelarian, curahan hati, hingga postingan sampah masih cukup bergaung. Bisa dikatakan sebagus apapun citra dibungkus di media sosial sesungguhnya akan masih kalah bila itu ada tindakan nyata di dunia nyata.

Media sosial adalah alat untuk bersosialisasi. Oleh sebab itu, tak patut bila nyatanya media sosiallah yang malah memperalat atau memperbudak manusia. Media sosial malah bukannya membawa manfaat yang ada justru membuang-buang waktu. Mengejar mimpi memang boleh menggunakan media sosial. Namun janganlah mengejar mimpi di media sosial. Sibukkanlah diri di dunia nyata untuk mengejar mimpi-mimpi indah bukan mengejarnya di medsos.

Dengan membaca tulisan ini. Diharapkan kalian lebih tahu bahwa tidak selamanya pamer di media sosial itu jelek. Terima kasih sudah baca. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga bermanfaat.