Memahami Arti Jokam dan Mbah Man, Menjadi Kode Komunikasi Antar Anggota Organisasi Keagamaan Terlarang

Posted on 1 views

Kalian masih asing dengan istilah “Jokam” dan “Mbah Man”? Sangat mungkin kalian sudah pernah membaca atau melihatnya tapi kalian tidak begitu menanggapinya. Sebab itu istilah asing yang tak tahu apa maknanya. Akhirnya apa boleh buat ingatan tentang penyebutan sebuah “sandi” semacam itu menguap dari otak.

Coba deh diingat-ingat lagi. Barangkali pernah membaca tulisan yang susunan hurufnya bertulis Jokam atau Mbah Man. Di sosial media, stiker, spanduk, dan semacamnya pernahkah kalian temui obrolan dengan menggunakan istilah Jokam atau kadang Mbah Man? Bila kalian tetap tidak ingat atau merasa tak pernah baca mari simak tulisan ini.
 
Sebelum kami jelaskan arti Jokam dan Mbah Man, perlu untuk dijelaskan bahwa itu jadi kode komunikasi bagi antar sesama anggota Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Yups, dua sandi itu menjadi bahasa simbolik yang menjadi identitas. Keduanya juga biasanya menjadi password bagi sesama anggota yang belum kenal sebelumnya untuk membuka komunikasi tingkat lanjut.
 
Terkait alasan mengapa dalam judul tulisan ini LDII dikatakan sebagai organisasi terlarang sudah kami bahas dalam tulisan berjudul Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? AWAS! Itu Kode Angka Organisasi Terlarang di Indonesia. Di tulisan itu pula juga kami jelaskan sedikit fungsi kode Jokam dan Mbah Man bagi eksistensi organisasi LDII.

Banned atau dilarang (sumber gambar)

Komunitas yang bernaung dalam LDII sadar dengan keadaan yang penuh kontroversi di masyarakat. Ada masyarakat yang menerima dengan diam-diam tanpa berani gembar-gembor. Pun, ada masyarakat yang menolak. Oleh sebab itu, diperlukan bahasa atau istilah khusus yang bisa jadi pembeda antara kalangan mereka dengan yang lain.  Dengan begitu kerahasiaannya akan terjaga.

Arti Jokam

Jokam merupakan singkatan dari “Jamaah”. Jangan gusar dulu. Singkatan itu merupakan bahasa gaul orang Jakarta pada tahun 1970-an yang biasa disebut bahasa prokem. Jadi, ciri utama bahasa itu adalah selalu menyisipkan kata OK dalam penggalan kata yang ingin dirubah. Misal kata Bapak akan dirubah menjadi bOKap. Begitu pula Jamaah akan dirubah menjadi jOKam.

Fungsi bahasa prokem sendiri biasanya digunakan oleh kalangan tertutup agar bisa berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Hal itu tentu juga supaya orang lain tak bisa mengikuti atau tidak tahu alur komunikasi internal. Para pengguna bahasa prokem ini biasanya tidak hanya menggunakan satu atau dua istilah yang sulit dipahami oleh kebanyakan orang. Lebih banyak kata-kata baru yang sulit dipahami akan lebih baik.

Tidak seperti kode angka 354 yang juga digunakan LDII yang punya nilai atau prinsip untuk kata Jokam sendiri tidak punya makna. Untuk melihat kandungan nilai-nilai angka 354 silakan baca tulisan dengan judul yang sudah disebutkan di atas. Bisa dikatakan, Jokam hanya menjadi bahasa gaul untuk dijadikan tali pererat dalam komunikasi internal. Kadang kata Jokam juga diikuti dengan angka 354 menjadi Jokam 354.

Arti Mbah Man

Mbah Man bukanlah sebuah istilah yang dirangkai khusus untuk memiliki arti. Sebab Mbah Man adalah sebutan untuk orang sepuh di zaman dulu yang mengabdikan hidupnya sepenuh hati untuk Pondok Pesantren LDII. Alhamrhum merupakan sosok yang dirindukan dan begitu populer di kalangan Jamaah LDII. Hingga pada akhirnya istilah “Mbah Man” menjadi identitas sekaligus konsesus internal LDII.

Mbah Man bernama asli Sukiman lahir di Magetan pada tahun 1925. Sejak muda Sukiman kehilangan kedua kakinya hingga lutut akibat ranjau darat. Singkat cerita tepat pada tahun 1961 setelah pensiun dalam dunia militer Sukiman memilih untuk mengabdikan diri mengurus dapur Pondok Pesantren LDII di Burengan Kota Kediri. Saat ini di sana ada tempat khusus yang disebut “dapur Mbah Man”.

Dapur adalah komponen vital dalam asrama bagi para santri. Tanpa ada dapur maka suasana pondok akan begitu berbeda. Terlebih bila yang melayani urusan dapur tersebut adalah orang yang ikhlas maka rasa makanan akan semakin nikmat. Bagaimana tidak, meski Mbah Sukiman memiliki kecacatan kaki tetap begitu gigih memasak tepat waktu. Untuk menjalankan tugas itu ia ditemani oleh 3 orang lain yang begitu setia melayani ribuan santri dan puluhan tamu Pondok.

Pada tahun 1988 warga pondok pesantren Burengan menitihkan air mata sambil mengantar jenazah Mbah Man ke tiang lahat. Meski meninggal, semangat “Mbah Man” tetap mengelora di kalangan jamaah. Lambat laun, Mbah Man menjadi istilah yang digunakan sebagai pengikat persaudaraan sesama jamaah LDII. Baik yang belum pernah dikenal maupun sudah dikenal. Di mana pun itu hingga di seluruh dunia.