Mengapa Seseorang Bisa Menggandrungi Teori Konspirasi? Berikut 3 Alasannya

Posted on 1 views

Teori konspirasi merupakan gagasan atau ide yang mengutarakan bahwa dibalik peristiwa, rahasia, dan lahirnya catatan sejarah terdapat persekongkolan orang yang punya kekuasaan atau pengaruh yang bertujuan membolak-balikan fakta. Komplotan orang penting itu merencanakan secara diam-diam sebuah kejadian tertentu untuk memperdaya masyarakat dunia. Merekalah yang bertanggung jawab untuk menjelaskan peristiwa yang lalu secara pasti.

Cara pikir kaum pendukung teori konspirasi cenderung skeptis. Yakni, lebih mendahulukan kecurigaan dan sisi negatif dibalik peristiwa. Mereka meyakini bahwa dunia ini telah digenggam oleh sekelompok orang yang punya kekuatan ekonomi, militer, hingga politik. Alhasil, segala peristiwa yang pernah ada di dunia ini terutama yang bersifat penting menurut mereka tak lepas dari campur tangan kelompok itu.

Menurut mereka kebenaran yang sesungguhnya telah ditutup-tutupi oleh kaum “super” tersebut. Catatan sejarah telah ditulis dengan isi yang jauh berbeda dari kenyataan. Salah satu contohnya ialah seorang korban ditulis menjadi pelaku atau sebaliknya seorang pelaku tercatat sebagai korban. Intinya, menurut para pendukung teori konspirasi dunia ini telah dikuasai oleh kelompok tertentu yang menginginkan terus langgeng menguasai dunia beserta isinya.

Dengan begitu, teori konspirasi mampu membuat orang yang biasanya “dingin” akan lebih bersemangat. Sebab teori konspirasi selain telah membuat penasaran juga biasanya mengandung nilai-nilai patriotisme, nasionalisme, rasisme, hingga agama. Nilai agama inilah yang biasanya sangat manjur sekali digunakan oleh para pendukung teori konspirasi untuk menyebarkan gagasan-gagasan mereka tentang “kebohongan” dunia.

Iluminasi, salah satu produk teori konspirasi (sumber gambar)

Memang harus diakui, tidak semua teori konspirasi itu menyesatkan. Ada beberapa teori konspirasi yang ternyata benar adanya. Serta tak sedikit pula teori konspirasi yang gagal membuktikan tentang adanya persekongkolan rahasia atau jahat dibalik peristiwa. Sebab, kebanyakan teori konspirasi hanya mampu menjelaskan alasan berdasarkan logika (asumsi) yang tercemari egoisme dan fanatisme. Argumen yang dibangun bukan berdasar bukti-bukti nyata yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mengapa Seseorang Menggandrungi Teori Konspirasi?

Bagaimana tidak akan membuat sebagian orang gandrung terhadap teori konspirasi, tema yang diangkat dan argumen yang dibangun sangat meyakinkan. Sebut saja teori konspirasi yang paling terkenal seperti “Manusia tidak pernah mendarat di bulan”, “John F. Kennedy sengaja dihabisi CIA karena mengancam keamanan Amerika”, “Antartika adalah tembok terluar dari dunia datar”, “Alam ini adalah hanya sebuah hologram yang tampak nyata”, dll.

Langsung saja, berikut ini beberapa alasan mengapa seseorang suka mengkaji teori konspirasi:


1. Eksklusif (Tertutup)

Tidak semua orang tahu tentang gagasan yang dibangun oleh pendukung teori konspirasi. Hanya orang-orang tertentu yang dianggap punya wawasan luas yang mampu membaca “makna” di balik peristiwa. Sebab peredaran teori konspirasi sendiri juga tak begitu terbuka. Tak banyak media mainstream (arus utama) yang mendukung teori konspirasi. Begitu pula para penggandrungnya biasanya juga dari kelompok eksklusif (tertutup atau terkucil).

Orang yang menyukai teori konspirasi akan cenderung menganggap dirinya sebagai orang spesial. Sebab, tidak semua orang punya keistimewaan untuk bisa mengakses atau bahkan sekadar tahu tentang konspirasi di sekitarnya. Walau sebenarnya teori konspirasi yang diyakini kebenarannya itu belum tentu bisa dipercaya. Sebab, orang yang terlanjur suka teori konspirasi akan mekesampingkan dulu bukti dan akal sehatnya. Bagi mereka teori konspirasi adalah “bahan” untuk menggosip sesama penyuka teori konspirasi.
 
2.  Gaya Berpikir Beda

Orang yang menggemari teori konspirasi biasanya punya pola pikir yang beda dengan kebanyakan. Cara berpikir mereka cenderung bertolak belakang dengan keumuman. Bila orang umumnya akan berangkat dari kenyataan lalu menyimpulkan maka pendukung teori konspirasi berangkat dari asumsi tanpa bukti lalu menyimpulkan. Memang benar tak selamanya asumsi itu salah. Namun, biasanya kebanyakan asumsi tanpa bukti akan menghasilkan kesimpulan yang salah.

Para pengagum teori konspirasi lebih suka mencari argumen yang bertolak belakang dengan ilmu pengetahuan umum (common science). Mereka akan mencari celah untuk menyanggah dari argumen yang telah mapan. Mereka percaya bahwa argumen yang ada itu bukanlah argumen berdasarkan fakta lapangan. Akan tetapi menurut mereka pihak tertentu telah berskongkol untuk menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya.

3. Mencari Alat Pembenaran

Teori konspirasi dapat menjadi argumen pembenar bagi para kaum eksklusif (tertutup), lemah, tersakiti, dan pendukung teori “khusus”. Teori konspirasi akan menjadi senjata bagi mereka untuk bertahan sekaligus menyerang gagasan pihak yang insklusif (terbuka), kuat, dan pendukung teori yang ditentangnya. Teori konspirasi bisa menjadi “penyemangat” bagi para pendukungnya untuk tetap solid (bersatu). Serta bisa menjadi alat untuk melemahkan pihak lawan yang sulit untuk dikalahkan secara “nyata”.

Teori konspirasi juga dapat menjadi alat pembenaran untuk menutupi kesalahan diri atau menutupi kekurangan teori yang diusungnya.  Dengan menyerang teori atau pihak lain dengan teori konspirasi maka itu akan menjadi “obat penenang” bagi pendukungnya. Daripada menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan teori yang diusung, mereka akan memilih untuk memojokkan pihak yang tak terlihat dan tak tersentuh. Yakni, pihak yang diyakini berada dibalik peristiwa.

Tulisan ini bukan berarti menyimpulkan bahwa pihak teori konspirasi adalah orang jahat, salah, tersesat, atau semacamnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa tidak semua teori konspirasi itu salah. Tidak semuanya pula berdampak negatif. Dapat dikatakan bahwa tulisan ini tidak bermaksud ingin merendahkan para pendukung teori konspirasi. Sebaliknya, malah ingin menuju titik tengah agar teori konspirasi yang diusung bisa dipertanggungjawabkan secara moral dan hukum.