Mengapa Setiap Buang Air Besar Pasti Disertai Kencing? Ini Fakta Ilmiahnya

Posted on 1 views

Setiap Buang Air Kecil (BAK) belum tentu disertai Buang Air Kecil (BAB). Akan tetapi setiap BAB pasti disertai Kencing. Paling umum adalah kencing dulu baru BAB. Akan tetapi ada juga yang barung mengeluarkan urine di tengah-tengah proses buang hajat tersebut. Mengapa fenomena itu menjadi sebuah kepastian yang tak terbantah?

Masalah BAB dan BAK ini pernah jadi bahan humor Abu Nawas.Saat Abu Nawas kalah taruhan, dia membolehkan lawannya untuk memberaki tempat tidurnya. Betapa gembiranya lawannya tersebut. Langsung saja musuh bebuyutan Abu Nawas itu menuju kamar serta siap-siap membuka pakaian bagian bawah. Langsung saja Abu Nawas berujar “Kamu boleh memberaki tempat tidur tapi jangan sambil kencing” yang disusul tawa kepuasan.

Fenomena rutin itu juga sering ditemui tapi bukan sebuah kepastian saat seseorang akan mandi. Ritual buang air kecil seringkali mendahului sebelum air mengguyur seluruh tubuh. Bisa dikatakan setiap akan melakukan aktivitas rutin di kamar mandi individu akan selalu mendahuluinya dengan buang air kecil. Sungguh unik tapi tak terpikirkan bukan?

Ilmuwan dalam bidang kesehatan menyebutkan bahwa tubuh memiliki mekanisme tersendiri dalam mengatur siklus rutinnya. Secara alami tubuh akan mengontrol otot beserta jaringan saluran pecernaan termasuk saluran kencing dan dubur. Ternyata antara dubur dan kandung kemih itu memiliki jalur sama. Meski dalam kasus lain juga bisa bekerja sendiri-sendiri.

Otot yang mengontrol Buang Air Besar memiliki ukuran lebih besar dari Buang Air Kecil. Ketika hendak BAB otot yang lebih besar ini juga ikut mendorong atau mengintervensi otot kecil di saluran BAK. Alhasil, saluran kandung kemih ikut terbuka sehingga air kecing juga ikut keluar. Namun, saat BAK otot kecil saluran kemih tak mampu menekan otot besar saluran BAB. Akibatnya saluran BAB tidak akan terbuka sehingga kotoran tidak akan ikut keluar saat buang air kecil.
 
Ilustrasi kebelet BAB (sumber gambar)

Bisa dikatakan otot yang mampu menahan atau melepaskan kotoran atau tinja memiliki kekuatan yang lebih besar dari pada otot pada saluran kandung kemih. Dengan kekuatan besar itu maka kalian akan mampu menahan lebih lama untuk buang air besar daripada menahan buang air kecil. Kecuali jika ternyata hasrat keduanya terjadi secara bersamaan maka itu adalah kasus lain.