Mitos! Anjuran Pada Anak Untuk Memakan Kepala, Sayap, dan Ceker Ayam. Ternyata Inilah Makna Dibaliknya

Posted on 1 views

Orang tua terutama keturunan suku Jawa kerapkali memberi petuah yang menakut-nakuti anak kecil. Nasehat yang sebenarnya punya nilai kebaikan bahkan kemanfaatan itu mayoritas hanyalah mitos. Misalnya orang tua melarang anaknya memakan ampas kelapa dengan memberi ancaman terkena “kreminen” (penyakit cacing kremi).

Padahal, bila ditelusuri ternyata orang tua menjunjung mitos itu supaya anak tidak lagi mengganggu orang tua saat memarut kelapa. Lebih-lebih dengan itu ampas kelapa yang belum diperas tidak akan habis atau berkurang banyak. Contoh lainnya adalah larangan untuk duduk di atas bantal. Bila melanggar maka akan “udunen” (terkena penyakit bisul).

(sumber gambar)

Ancaman penyakit bisul yang dilontarkan orang tua ternyata untuk memberi efek jera anak. Supaya anaknya tidak lagi terbiasa menduduki bantal. Sebab perilaku itu melanggar sopan santun atau tata krama. Efek lainnya dapat menyebabkan bantal cepat rusak. Paling tidak tampilan bantal akan amburadul setelah pembungkusnya kusut bahkan lepas.
 
Nah, terkait dengan anjuran orang tua pada anak untuk memakan kepala, sayap, dan ceker ayam ternyata juga punya maksud tersembunyi. Disertai ancaman bila anak makan brutu (pantat ayam) maka akan menyebabkan mudah pikun. Lalu apa maksud orang tua memberikan mitos tersebut? Salah satunya ialah untuk “memanjakan” orang tua (sepuh).

Sebagaimana diketahui kebanyakan orang sepuh kemampuan mengunyah dan pecernaannya sudah berkurang. Bahkan beberapa sudah kehilangan giginya. Oleh sebab itu bagian terkeras yang banyak tulangnya biarlah diberikan untuk anak-anak. Sedang bagian yang empuk-empuk terutama brutu diberikan untuk orang tua.

Tidak cukup itu orang tua juga akan memberikan “motivasi” pada anak. Bila ia makan kepala ayam maka kelak ia akan jadi kepala rumah tangga yang baik. Bahkan bisa jadi kepala di bagian tertentu pada organisasi. Bila makan ceker maka kelak sang anak akan pinter “ceker” alias mengais rezeki. Sedang bila ia makan sayap kelak ia akan bisa terbang melalang buana.

Mitos tentang memakan ayam di atas dalam konteks dulu sangat baik. Sebab ayam yang dikonsumsi di zaman dulu kebanyakan adalah ayam kampung. Dikembangbiakkan secara alami tanpa campuran bahan kimia. Tentu bagian “tulang-belulang” ayam sangat baik bagi pertumbuhan si anak. Sebab mengandung kalsium dan zat bermanfaat lainnya.

Dalam sudut pandang sekarang memberi makan kepala, sayap, dan ceker ayam pada anak secara berlebihan justru membahayakan mereka. Diasumsikan, sekarang semua jenis ayam termasuk ayam kampung dalam mengembangbiakannnya kebanyakan menggunakan zat kimia. Diternakan secara modern. Alih-alih membawa manfaat justru membawa petaka.

Kepala, sayap, dan ceker ayam merupakan salah satu bagian tubuh ayam yang sangat membahayakan. Sebab di dalam bagian tubuh itu banyak zat kimia berbahaya mengendap. Hal itu terjadi karena kepala ayam disinyalir penuh dengan kandungan logam mematikan. Itu terjadi karena bahan makanan ayam telah dicampur zat kimia mengandung logam oleh para peternak. Alhasil, lama kelamaan zat itu mengendap di otak ayam.

Sedang sayap ayam beberapakali menjadi sasaran suntik hormon. Paling tidak sebanyak 4 kali dari menetas hingga panen. Tentu sisa suntikan hormon itu sebagian akan mengendap pada bagian sayap tersebut.  Sayangnya konsumen tidak tahu apakah sayap sebelah kiri atau kanan yang kerap kali menjadi objek suntikan. Resiko bagi manusia yang sering terkontaminasi makanan mengandung hormon itu ialah terkenan kanker.

Adapun ceker ayam yang sangat menggiyurkan selain karena renyahnya juga karena murahnya juga tak kalah berisikonya. Selain sayap yang menjadi sasaran suntik ternyata ceker juga tak kalah “menderitanya” karena kerap disuntik. Berdasar penelitian bila ceker dikonsumis oleh kaum hawa dapat menyebabkan penyakit kanker servik, kanker rahim, dan kanker payudara.

Selain kepala, sayap, dan ceker ternyata ada bagian tubuh ayam lainnya yang cukup membahayakan. Di antaranya meliputi kulit, leher, jeroan, serta brutu. Bagian tubuh itu diduga banyak mengandung zat kimia, lemak, dan racun. Resiko yang dihadapi ialah obesitas, kolestrol, asam urat, kanker, hingga rawan diserang oleh bakteri dan kuman yang berasalah dari bagian ayam tersebut.

Dapat dikatakan di zaman sekarang ini hampir semua bagian tubuh ayam tidak lagi aman untuk dimakan. Boleh saja memakan tapi hanya sesekali dan jangan berlebihan. Sebisa mungkin makan ayam kampung yang meskipun sama-sama mengggunakan bahan kimia tapi biasanya untuk ayam kampung penggunaannya sedikit. Mulai sekarang mari bijak memilih makanan. Jangan asal bisa masuk perut saja.

Demikian tulisan ini dibuat. Terima kasih telah membaca. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga bermanfaat.