Terlalu Banyak Tidur dan Kurang Tidur Saat Puasa, Inilah Bahayanya

Posted on 1 views

Apapun itu yang namanya kebanyakan atau berlebihan dan kekurangan adalah sesuatu yang tak baik. Begitu pula bila terlalu banyak dan kurang tidur. Orang yang terlalu banyak dan terlalu kurang tidur tidak tidak hanya berisiko terkena serangan penyakit fisik-biologis tapi juga secara batin-sosiologis. Terlebih lagi saat bulan puasa. Kebanyakan orang akan memanfaatkan kesempatan “bulan puasa” dalam kesempitan lapar sebagai ajang begadang di malam hari serta bermalas-malasan di siang harinya.

Baik saat berpuasa atau tidak yang namanya terlalu banyak maupun kurang tidur pasti rentan terserang penyakit. Terlebih lagi bila setiap harinya sering tidur lebih dari 10 jam atau kurang dari 6 jam. Risiko terkena penyakit serangan jantung, diabetes, kondisi emosi tak terkendali, berat badan bertambah, daya konsentrasi menjadi turun, memperpendek umur, dan risiko lainnya akan semakin meningkat. Dapat disimpulkan bahwa tidur terlalu banyak maupun terlalu sedikit dapat menimbulkan terserangnya penyakit yang beragam.

Idealnya manusia mempunyai durasi tidur sekitar antara 7-8  jam perharinya. Bila kondisi tubuh lemas dan ngantuk karena puasa lebih baik jangan menambah jam tidur kalian. Kalaupun merubah pola tidur karena harus bangun dini hari untuk sahur tidak masalah. Asal saat tidur di pagi atau siang hari dilakukan secukupnya. Hanya untuk sekadar menghilangkan kantuk dan untuk mengembalikan konsentrasi agar bisa kembali fokus untuk beraktifitas. Begitu pula sebaliknya janganlah memaksakan diri untuk tidak mengistirahatkan tubuh.

Memang benar tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Terlebih lagi i’tifkafnya orang puasa. Lebih-lebih lagi bila sebelum tidur ia berdo’a dan berniat tidur untuk mencari Ridho Allah. Sebab dengan tidur itu dia akan terhindar dari perbuatan sia-sia seperti bicara bohong, gosip, menjaili teman yang keterlaluan, dan yang semacamnya. Namun, bukankah juga ada ibadah lain yang lebih utama dari tidur. Bahkan hukumnya lebih tinggi dari tidur itu sendiri. Yakni, ibadah sholat yang hukumnya wajib.

Berdasar kajian ilmiah ternyata terlalu banyak maupun terlalu kurang tidur jauh lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya. Di antara beberapa resiko negatif yang didapat ketika seseorang banyak dan kurang tidur di bulan puasa adalah sebagai berikut:
1. Menurunnya kinerja otak

Kebanyakan tidur bisa menurunkan performa otak pelakunya. Tidak hanya karena tidur kurang dari 6 jam sehari yang menyebabkan kemampuan otak menjadi turun. Sebaliknya, tidur lebih dari 8 jam sehari juga akan menjadi penyebab menurunnya kinerja otak. Hal ini lebih disarankan terutama bagi manula (orang sepuh) untuk senantiasa menjaga jam tidur cukup dan bangun rutin di pagi hari. Kebiasaan seperti akan menunda penurunan fungsi otak.

Berdasar hasil penelitian yang dimuat pada Jurnal American Getiiatrics Society bahwa terlalu banyak tidur bisa menurunkan kemampuan konsentrasi. Tidak hanya membuat konsentrasi buyar. Hal itu juga berlaku sebaliknya bila seseorang kurang tidur. Bahkan, pola tidur panjang yang terus-menerus dapat menyebabkan usia otak berkurang dua tahun dari usia yang sebenarnya. Sungguh mengerikan bukan bila otak sebagai organ paling vital di tubuh mengalami “kerusakan”.

2. Kondisi emosi yang tak terkendali

Sebagaimana kurang tidur, seorang yang banyak tidur berlebihan bersiko meningkatkan kecemasan, depresi, marah, dan yang semacamnya. Hal ini terutama terjadi saat pelakunya sedang menjalankan puasa. Kebanyakan orang bila saat depresi lebih banyak tidur maka dapat membuat depresi semakin parah. Dengan banyak tidur alih-alih pikiran menjadi tenang. Justru sebaliknya gangguan emosi akan sering terjadi bahkan disebabkan oleh hal sepele sekalipun.

Ilustrasi gangguan tidur (sumber gambar)

Dengan banyak tidur seseorang bisa mengalami gangguan mental. Sebuah studi ilmiah menemukan bahwa semakin lama seseorang tidur maka semakin besar ia berisiko mengalami gangguan emosi. Tidur selama 9-10 jam setiap hari berisiko terkena depresi sebesar 27%. Sedang tidur lebih dari 10 jam perhari bisa menyebabkan orang terkena deprese dengan tingkat kasus sebanyak 49%. Kalau sudah begitu setelah bangun tidur bukannya akan menjadi pribadi yang tenang yang ada malah gejolak untuk uring-uringan.

3. Gangguan kesehatan

Orang yang terlalu banyak tidur risiko terserang diabetes akan semakin naik. Sebab dengan banyak tidur maka kadar gula dalam darah akan bertambah secara drastis. Hal ini bisa terjadi karena orang yang banyak tidur sebagaimana orang yang kurang tidur akan mudah terkena obesitas (berat badan berlebih). Dengan berat badan yang lebih timbunan gula di tubuh juga semakin banyak. Tidak hanya diabetes, penderita obesitas juga sangat berisiko terserang tekanan darah tinggi, storke, hingga penyakit jantung.

Dengan adanya gangguan kesehatan, orang yang terlalu banyak tidur sebagaimana orang kurang tidur dalam jangka lama juga akan kehilangan umur sebesar 34 persen. Berdasar hasil penelitian Norwegian University of Science and Technology peremua jauh lebih rentan terserang penyakit jantung. Sebab mereka cenderung memiliki durasi tidur lebih lama daripada laki-laki. Ancaman terkena nyeri dada akibat kurangnya aliran darah ke jantung jauh lebih kuat dua kali lipat.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa baik kurang tidur maupun kelebihan waktu tidur merupakan hal negatif yang tak perlu dilakukan. Keduanya seringkali memiliki efek yang sama bila dilakukan secara konsisten. Selain itu hindarilah tidur yang kurang berkualitas atau bahkan tidak berkualitas sama sekali. Sebab meski tidur cukup tapi tidak berkualitas itu juga akan tetap membahayakan bagi tubuh terutama membahayakan bagi otak.

Setelah membaca tulisan ini. Diharapkan kalian jadi tahu tentang risiko apa saja yang mengancam ketika seseorang terlalu banyak atau sebaliknya terlalu kurang tidur. Dengan begitu kalian akan bisa memanfaatkan waktu secara proposional terutama saat bulan puasa. Terima kasih telah membaca. Semoga bermanfaat.