Tiga Fakta Pilu Penderitaan Kuda di Balik Arena Pacuan

Posted on 3 views

Pacuan kuda merupakan salah satu olah raga paling kuno dalam sejarah umat manusia. Sebelum adanya kendaraan beroda hingga bermesin seperti sekarang ini kuda menjadi alat transportasi andalan. Selain karena kecepatannya, keunggulan kuda pada zaman dulu ialah berani ketika “diajak” bertempur dalam medan peperangan. Tak ayal bila di zaman dulu kuda berharga sangat mahal.

Tak hanya zaman dulu, sekarang ini “kuda pilihan” juga memiliki harga fantastis. Bahkan tak jarang satu ekor kuda saja harganya bisa tembus milyaran. Itu bisa terjadi karena si kuda merupakan keturunan dari ras unggul. Induk hingga nenek moyangnya punya riwayat sebagai kuda juara. Yakni, kuda balap yang sering memperoleh kemenangan saat bertanding di pacuan kuda.

ilustrasi pacuan kuda (sumber gambar)

Sayangnya, seringkali nasib kuda tak sebanding dengan harga jualnya. Banyak kuda balap yang berakhir malang karena kerakusan dan ego manusia. Tak hanya berisiko cidera maupun kematian saat berpacu di medan laga, tapi juga selama hidupnya mulai lahir hingga mati tiap hari dijalani penuh siksaan. Banyak latihan, tekanan, diet, dan semacamnya yang harus ia terima di peternakan maupun tempat latihan.

contoh kecelakaan fatal saat berkuda (sumber gambar)

Lalu apa saja fakta memilukan terkait pacuan kuda yang seringkali si hewan menjadi tumbalnya. Berikut ini beberapa di antara penderitaan seekor kuda balap yang jarang diketahui dibalik arena pacuan: 

1. Eksploitasi Anak Kuda
 
Anak kuda yang belum cukup umur dipaksa untuk ikut berpacu di pertandingan balap kuda. Alasannya selain untuk melatihnya terjun di lapangan juga karena si peternak memiliki setok kuda yang minim. Kuda yang sudah berumur dewasa (lebih dari 4 atau 5 tahun) yang mencukupi untuk bertanding seringkali baru dikeluarkan saat pertandingan “sebenarnya”. Yakni, pertandingan besar yang juga berpotensi untung besar.

Contoh salah satu kecelakaan berkuda di arena balap (sumber gambar)

Padahal seharusnya anak kuda yang di bawah umur dirawat hingga dewasa terlebih dulu. Sebab tulang, paru-paru, dan “mentalnya” memang belum benar-benar siap untuk diajak bertanding. Bila dipaksa risiko patah tulang hingga pendarahan di mulut sangat mungkin terjadi. Hal itu karena kuda muda (usia sekitar 2 tahunan) memiliki tulang yang masih “lunak”. Selain itu paru-parunya juga belum benar-benar terlatih untuk berlari jarak jauh.

2. Pemberian Doping dan Narkoba sebagai Stimulan

Agar kuda bisa berlari kencang tanpa merasa kelelahan dan tak merasa sakit karena kejang otot maka penggunaan doping menjadi pilihan. Selain memberi efek perkasa alias giras, doping juga membuat ketahanan tubuh kuda jadi lebih kuat. Rasa sakit yang melanda kuda jadi hilang. Bahkan saat kaki kuda mengalami patah sekalipun tak akan merasakan rasa sakit. Stimulan itu menyebabkan kuda bergerak di luar batas kemampuan tubuhnya.

Kehilangan rasa sakit tersebut juga berlaku untuk paru-parunya yang juga tak akan merasa lelah ketika dipaksa melaju kencang di lintasan. Akibatnya tentu fatal, kuda tidak akan tahu sejauh mana batas kemampuan paru-parunya untuk terus memompa udara dalam tempo cepat. Bila kuda terus dipaksa melaju hingga melampaui batas kekuatan paru-paru disertai sabetan di pantat maka resiko muntah darah akibat paru-paru pecah bisa terjadi.

3. Usia Harapan Hidup Jadi Lebih Pendek

Bila seekor kuda lolos dari cidera hingga maut saat pertandingan maka belum tentu ia akan lolos mendapat harapan hidup yang panjang. Akibat sedari muda sudah dipaksa untuk latihan intens dan bertanding, kondisi tubuh kuda mengalami “keausan”. Selain itu pemberian doping yang terlalu sering pada kuda mengakibatkan organ-organ penting pada kuda mengalami kerusakan. Kuda jadi gampang terserang penyakit dan rentan untuk  tumbang saat penyakit menyerang.

Kombinasi itu semua menyebabkan umur kuda menjadi lebih pendek. Seharusnya dalam kondisi perlakuan wajar umur kuda bisa mencapai lebih dari 20 tahun. Namun, dengan perlakuan seperti di atas usia kuda menjadi jauh lebih pendek. Rata-rata usia kuda hanya akan menjadi 5-7 tahun saja. Kuda akan mati di peternakan dengan sendirinya tanpa bisa menikmati masa-masa pensiunnya dengan leluasa. Serta kadang bila kuda sudah tidak produktif lagi sebelum mencapai usai itu akan “dibantai” pemiliknya untuk dijual dagingnya.
 
Demikianlah fakta miris kuda pacuan yang jarang diketahui. Sebab seringkali saat kuda mati atau bahkan “hanya” cidera di lintasan balap meski itu tidak disebabkan oleh 3 faktor di atas seringkali tak akan diekspose sedemikian rupa. Dibalik itu semua baik peternak, penyelenggara lomba pacuan, bandar judi, dan penonton tak ada yang memperhatikan bagaimana kesejahteraan hidup kuda selama ini. Di mata mereka uang dan hiburan menonton pacuan kuda adalah segala-galanya.