Ulasan Film X-Men: Dark Phoenix, Pertama Kali Menjajal Midnight Show

Posted on 1 views

Tadi malam merupakan tengah malam yang spesial. Untuk pertama kalinya saya menikmati midnight show atau pertunjukkan tengah malam. Yakni, pertunjukkan film yang diputar hanya pada hari Sabtu malam sebelum tayang perdana berlangsung. Film diputar pada pukul 11.20 WIB hingga sekitar jam 1 kurang 10 menit dini hari. Ternyata sensasi yang didapat sungguh beda. Audio bioskop jadi begitu bersih, jelas, dan mantap. Tidak ada gangguan suara hujan, angin, atau polusi suara lainnya.

Seperti film X-Men: Days of Future Past tahun 2014 lalu narator film X-Men: Dark Phoenix juga berbicara masalah takdir manusia. Di mana dijelaskan yang pada intinya bahwa manusia tak dapat melepaskan diri pada takdir. Apapun yang dijalani, dihadapi, dan diterimanya adalah takdir. Tak dapat dielak atau ditolak. Manusia harus menjalani. Baik dengan cara berdiam diri atau sebaliknya memperjuangkannya.

Film ini diawali dengan plot cerita tahun 1975. Di mana berkisah tentang Jean Grey kecil yang sudah memiliki “bakat” kekuatan super. Namun, ternyata kedua orang tuanya tak tahu bahwa Jean punya potensi bawaan yang sulit untuk dikendalikan. Tragisnya, kekuatan mutan yang dimilikinya itu malah menjadi penyebab ibunya meninggal dunia. Akibatnya, Jean mengalami trauma di seumur hidupnya.

Mengetahui keadaan Jean yang butuh pendampingan pakar atau ahli mutan. Profesor Charles memutuskan untuk merekrut Jean kecil menjadi bagian dari X-Men. Mendidik untuk menjadi mutan yang kuat sekaligus baik. Tentu dia juga berupaya menghilangkan trauma Jean di masa lalu. Akan tetapi pada akhirnya hubungan Charles dengan Jean begitu rumit. Dia memang begitu. Digambarkan sebagai sosok yang sulit memahami hati wanita.
Tepatnya pada tahun 1992, konflik psikologis Charles dengan Jean tak terelakkan lagi. Yakni, setelah Jean mengalami “kecelakaan” dalam misi menyelamatkan astronot di luar angkasa. Penyelamatan itu dilakukan bersama-sama dengan anggota X-Men lainnya atas perintah Charles. Sebenarnya, kejadian itu bukan murni “kecelakaan” tapi itu adalah sebuah takdir yang harus diterima oleh Jean.

Jean Grey (sumber gambar)

Suara pesawat dalam film ini sungguh keras menderu bikin gendang telinga bergetar. Entah itu memang aslinya begitu atau karena saya sedang menontonnya di tengah malam sehingga suaranya tak terganggu. Oleh sebab itu, bersiap-siaplah untuk kaget ketika beberapa pesawat dan helikopter lepas landas. Suaranya cukup memekakan telinga sehingga bikin anak kecil bisa panik bahkan menangis.
Tak hanya berkonflik dengan Jean, dalam film ini Charles lagi-lagi juga berkonflik dengan Raven adik angkatnya. Konflik kali bukan mengarah pada konflik batin-psikologis tapi cenderung konflik logika, strategi, dan pola pikir dalam memosisikan manusia mutan. Semua konflik yang dilakukan oleh Charles itu berakibat fatal. Salah satu yang harus ia terima ialah akan kehilangan orang yang ia sayangi.
Sebagaimana film Captain Marvel, film X-Men Dark Phoenix ini juga menonjolkan sisi feminisime. Di mana, peran sosok cewek lebih dominan dari pada tokoh cowok. Bahkan musuh utama dalam film ini juga diwujudkan dalam sosok tubuh perempuan. Tak hanya itu, saking kesalnya Raven alias Mystique pada Charles karena telah “mengeksploitasi” mutan wanita ia merubah nama X-Men menjadi X-Woman.
Di awal film Raven memiliki peran dan alokasi waktu tampil lebih banyak. Sosok Raven begitu ditonjolkan sebagai senior, berwibawa, bijaksana, dan tentunya berwajah cantik. Yups, beberapa kali Raven “ditampilkan” oleh sutradara tidak merubah dirinya menjadi makhluk berwarna biru. Figur Raven lebih alami cukup menonjol sebagai manusia biasa.
Seperti film khas Marvel terkini, film X-Men: Dark Phoenix ini juga ada manusia luar angkasanya. Namun, alien dalam film ini diceritakan memiliki bahasa sendiri. Hal itu sungguh berbeda bila dibanding film lainnya yang makhluk asingnya ujug-ujug tanpa alasan logis langsung bisa bahasa penduduk bumi. Tanpa dijelaskan terlebih dahulu bagaimana mereka bisa berbahasa inggris atau bahasa bumi lainnya.

Bagi kalian yang belum melihat film X-Men: Dark Phoenix saran saja untuk tidak terjebak oleh trailer atau cuplikan film. Promosi film ini sungguh pintar dalam memancing calon penonton. Mereka akan bertanya-tanya mengapa Jean ditampilkan begitu jahatnya dalam trailer. Padahal, tontonan pratayang itu hanya menjelaskan satu sudut masalah saja. Tidak menjelaskan sudut-sudut lainnya yang jauh lebih rumit.
Ada beberapa rahasia yang masih disembunyikan oleh sutradara di awal film. Baru saat pertengahan hingga menjelang akhir film semua rahasia terungkap. Di antaranya ialah rahasia yang disimpan oleh Charles terkait masa lalu Jean. Lalu rahasia tentang mengapa Jean bisa menjadi manusia yang sangat kuat sekali. Kekuatan apa yang merasuki dirinya sehingga ia bisa berupa menjadi super kuat? Bahkan kekuatannya dalam satu sisi bisa dikatakan melebihi Captain Marvel.
Jean memiliki kekuatan yang mampu melumpuhkan semua mutan terkuat dalam waktu sekejap. Erik alias Magneto begitu sangat mudah dikalahkan hanya dengan satu gerakan tangan. Bahkan, Charles Xavier yang memiliki kekuatan telepati super sehingga bisa membaca pikiran manusia normal maupun mutan tak mampu menembus alam pikir Jean. Bisa dikatakan, Jean mengalami transformasi yang begitu drastis setelah mengalami tragedi di luar angkasa.
Film X-Men bukan hanya film fiksi ilmiah maupun aksi. Ini adalah film tentang pengorbanan, konflik keluarga, konflik teman, hingga masalah percintaan. Di mana pada akhirnya semua konflik itu bisa terurai dengan rapi karena mereka memiliki musuh bersama yang jauh lebih penting. Musuh itu memiliki misi menduduki bumi serta memusnahkan seluruh umat manusia. Mereka memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan.
Film ini cukup menarik untuk ditonton. Terutama bagi kalian yang suka film fiksi ilmiah dan aksi. Sebelum diakhiri, perlu diketahui bahwa film ini tidak ada post credit alias adegan di luar kisah utamanya yang ditampilkan setelah film berakhir. Adegan di akhir film ini menceritakan bahwa Charles memutuskan untuk pensiun. Ia digambarkan hidup tenang sambil main catur dengan teman lamanya Erik. Demikian, semoga terhibur.