Pemkab Kampar Ikuti Ekspos Persiapan MTQ Riau ke-44 di Pekanbaru

Daerah, Kampar44 Dilihat

Pekanbaru – Pemerintah Kabupaten Kampar menunjukkan komitmennya dalam menyukseskan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-44 tingkat Provinsi Riau yang akan digelar di Kabupaten Kuantan Singingi. Hal ini terlihat dari kehadiran Asisten I Setda Kampar yang juga Ketua Umum LPTQ Kampar, Tengku Said Hidayat, dalam kegiatan ekspos persiapan MTQ di Pekanbaru, Selasa (21/04/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Melati Lantai 3 Kantor Gubernur Riau tersebut dihadiri oleh perwakilan seluruh kabupaten/kota se-Riau. Tengku Said Hidayat hadir mewakili Bupati Kampar, didampingi Ketua Harian LPTQ Kampar Erman Gani serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kampar Erizon Efendi.

Ketua Harian LPTQ Kampar, Erman Gani, menyampaikan bahwa ekspos ini merupakan tahapan penting dalam memastikan kesiapan pelaksanaan MTQ tingkat provinsi yang dijadwalkan berlangsung pada Juni hingga Juli 2026.

“Melalui forum ini, tuan rumah memaparkan berbagai aspek persiapan, mulai dari konsep acara, kesiapan lokasi, hingga dukungan lintas daerah agar pelaksanaan MTQ berjalan sukses,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa rombongan dari Kabupaten Kampar turut melibatkan sejumlah pengurus LPTQ lainnya, seperti Sekretaris H. Zulfaimar dan Bendahara H. Dirhamsyah, sebagai bentuk keseriusan dalam mendukung kegiatan keagamaan tersebut.

Sementara itu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar sebelumnya memberikan apresiasi terhadap rencana penyelenggaraan MTQ di Kuantan Singingi. Hal itu disampaikannya dalam pertemuan bersama Bupati Kuansing Suhardiman Amby dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Riau Muliardi di Jakarta.

Menurutnya, MTQ tidak hanya menjadi ajang kompetisi membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki peran strategis dalam memperkuat moderasi beragama melalui pendekatan yang memadukan nilai spiritual dan budaya lokal.

Ia menilai, penyelenggaraan MTQ yang berdekatan dengan tradisi Pacu Jalur pada Agustus mendatang menjadi peluang besar dalam mempererat harmoni sosial di tengah masyarakat.

“Kolaborasi antara kegiatan keagamaan dan budaya lokal dapat menjadi kekuatan dalam menjaga kebersamaan serta menanamkan nilai keagamaan yang inklusif,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan pentingnya pendekatan berbasis kearifan lokal dalam memperkuat moderasi beragama, sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang harmonis, terbuka, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya daerah.

Integrasi antara MTQ dan tradisi Pacu Jalur diharapkan dapat menjadi contoh sinergi positif dalam membangun persatuan serta memperkokoh nilai keagamaan di tengah keberagaman masyarakat.